Featured Post
My Pen (2014)
REALITAS KEHIDUPAN DI DARATAN BAGIAN SELATAN
Lambaian nyiur
yang tidak jauh dari sebuah desa bagian selatan kabupaten Paser menjadikan
suasana pemikiran diselimuti dengan idealisme kehidupan yang romantik. Pada
waktu itu—sekitar 6 bulan yang lalu—di balik keberadaan nyiur itu masih jauh
dalam pengetahuanku yang modern. Bukankah itu menunjukkan suasana hidup yang
aman dan sentosa? Sekarang, sekian bulan
kemudian, keharusan akan pengembangan ‘’ kehidupan bangsa yang cerdas dan
mandiri’’ bukan lagi sebuah idealisme, tapi suatu keharusan yang tidak terelakkan.
Kemewahan tanah air kita yang subur, sumber alam yang kaya, berada dalam
suasana mitos. Realitas yang keras menyatakan betapa cepatnya kerusakan dan pengurasan
kekayaan alam yang telah terjadi yang potensial menyebabkan berbagai fenomena
alam seperti longsor dan banjir. Fenomena inilah yang harus kita antispasi
bersama.
Sebagai salah satu
pendidik MTs Nurul Khair Muara Telake di bidang Natural Science mengatakan bahwa perlu menunjukkan kesadaran akan
rasa kecintaan kita terhadap tanah air kita yang subur dengan mengadakan
reboisasi yang bisa memberikan dampak positif
sehingga terjalin mutualisme kehidupan antara alam dan manusia itu
sendiri. Romantika hidup dan kehidupan tidak hanya terjalin bagi manusia itu
sendiri, tetapi antara manusia dengan alam juga harus dijaga. Dengan kesadaran
itu, maka suasana pemikiran kita tidak akan berada dalam suasana mitos
bagaimana membentuk pola pikir environmental care atau peduli terhadap
lingkungan sekitar kita. Aku pikir inilah disposisi kehidupan pertama yang
kadang berada pada parasitisme manusia.
Menempuh
perjalanan kurang lebih 5 km menuju utara, menyaksikan anak-anak
berlari dengan luapan rasa gembira bermandikan sinar mentari senja diiringi
dengan ritme dentaman ombak. Bahtera kehidupan yang aku takutkan karena aku
pikir belum menemukan keseimbangan tapi bagi mereka adalah hal biasa karena
mereka hidup di sana dan sudah menjadi magnetisme dan vitalitas kehidupan
sehari-hari. Ada yang datang dengan gembira dan ada yang pergi dengan penuh
harapan. Mereka hidup berdampingan di atas disposisi kehidupan ketiga dengan
damai. Sungguh kekayaan alam kita bagai sebuah lagu yang sangat melodius dan
manusialah yang menjadi liriknya.
Writen by Peke,S.Pd
Muara Telake 2014
Posting Komentar
Posting Komentar